Literasi Media dalam Kampanye Politik

Literasi Media
Ilustrasi

Terkini.id – Masyarakat Indonesia sedang mengalami euforia politik di dalam kehidupan sehari-hari. Semua aspek kehidupan tiba-tiba saja dikaitkan dengan politik. Mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, ideologi, agama, hingga kesehatan.

Mulai dari kaum muda, sesepuh, rakyat jelata, akademisi, birokrat, hingga pejabat semua mendadak fasih dan lancar berbicara politik seolah mereka mumpuni di bidang tersebut. Diskusi di warung kopi, kafe, kantin, kantor, ruang rapat, hingga istana juga tentang dinamika politik.

Terlebih lagi, di tahun 2019 pesta demokrasi pemilihan presiden akan digelar. Saat ini masing-masing kandidat beserta kubunya gencar melangsungkan kampanye politik.

Salah satu strategi kampanye politik yang menjadi tren kekinian adalah melalui media sosial. Mengapa melalui media sosial? Media sosial dianggap sangat dekat dengan masyarakat digital (netizen), tidak mengenal strata sosial, dianggap tidak mengenal ruang dan waktu, mampu merangkul kaum muda, serta lebih cepat di dalam mengomunikasikan agenda partai.

Peran media, baik media massa maupun media sosial, yang berpotensi mengubah dunia tentu menggoda elit politik dan kandidat Pemilu untuk memanfaatkannya. Mereka berlomba-lomba memanfaatkan media dengan berbagai macam cara untuk melakukan politik pencitraan. Hal ini dikarenakan peran media yang mampu melipatgandakan kekuatan berita.

Politisi bersih dan kandidat jujur akan memanfaatkan media sebagai ajang untuk melakukan edukasi politik kepada masyarakat, menyampaikan visi, misi, program kerja, sehingga masyarakat menjadi tahu dan paham akan politik. Singkatnya, mencerdaskan masyarakat.

Kampanye politik melalui media sosial atau media massa tentunya sah dan diperbolehkan. Dengan catatan, tetap memperhatikan literasi media beserta segala peraturan dan etikanya.

Berbicara literasi, maka sudah dapat dipastikan memiliki tujuan mulia, yakni mengubah kehidupan serta peradaban menjadi lebih baik dan sejahtera. Bila dikaitkan dengan media, maka literasi memiliki etika media yang merupakan elemen fundamental jurnalistik.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengemukakan beberapa elemen jurnalistik, yakni: kebenaran, loyalitas pertama kepada warga masyarakat, disiplin verifikasi, independen dan reliabilitas, pelayan yang bebas kepentingan dan tidak memihak kepentingan (fungsi monitoring media), menyediakan forum untuk kritik publik dan kompromi, isi berita haruslah signifikan, menarik, dan relevan, liputan berita sebisa mungkin komprehensif dan proporsional, para jurnalis perlu memiliki sense etik, tanggung-jawab moral, serta perlu terus mengasah kepekaan melalui suara hati nurani mereka, masyarakat memiliki hak dan tanggung-jawab atas berita yang diterima.

Elemen jurnalistik ini menyiratkan bahwa berita yang ditulis wartawan hendaklah akurat, valid, dan terpercaya. Selain itu, jurnalis perlu memilih sumber berita atau narasumber yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang tidak diragukan lagi.

Demokrasi Media

Media berperan sebagai penyalur aspirasi rakyat. Masyarakat menyampaikan pemikiran dan kehendaknya melalui media, kemudian para pejabat, birokrat, dan elit politik menampung aspirasi mereka lalu mewujudkannya menjadi kebijakan dan program pembangunan. Inilah demokrasi media.

Seiring berkembangnya teknologi dan maraknya media digital, maka demokrasi pun mengalami perkembangan. Lebih tepatnya, perkembangan pemaknaan. Vox populi vox Dei(suara rakyat, suara Tuhan) merupakan pengejawantahan demokrasi dalam konteks harfiah dan tradisional.

Dalam konteks kekinian, demokrasi tidak lagi dimaknai sebagai kehendak rakyat atau kebaikan bersama. Scumpeter telah merumuskan teori lain demokrasi, yang dinamakannya sebagai metode demokrasi.

Metode demokrasi adalah prosedur kelembagaan untuk mencapai keputusan dan kesepakatan politik. Dalam hal ini, individu mendapatkan kekuasaan untuk membuat keputusan melalui perjuangan kompetitif. Tujuan akhirnya tentunya untuk memperoleh suara. Suara konstituen mutlak diperlukan demi kemenangan. Inilah demokrasi media di era digital. Boleh jadi, terdapat bias makna karena sarat akan kepentingan.

Bias makna tersebut terjadi karena “penyalahgunaan” analisis framing. Analisis pemberitaan yang biasa dipakai di dalam media ini memiliki dasar struktur kognitif yang memandu persepsi, sekaligus merupakan representasi realitas.

Analisis framing yang dibumbui dengan asumsi, dugaan, dan politik kepentingan akan menjadi simalakama politik dan simulakra kehidupan. Dengan kata lain, terjadi hiper-realitas kehidupan. Yang nyata seolah maya, yang ilusi seolah sejati, yang jauh menjadi dekat, yang dekat seolah tiada.

Singkatnya, batas antara kebenaran dan keburukan semakin kabur, bahkan menghilang. Akibatnya tentu mudah ditebak. Terjadilah berita hoaks, muncullah ujaran kebencian, merajalela perang pemikiran.

Tsunami informasi yang tidak berdasarkan kebenaran tentunya berbahaya. Mereka merupakan racun pemikiran yang mudah merusak idealisme pemuda dan melunturkan nasionalisme. Inilah tragedi terbesar di era digital.

Diperlukan filter kuat bagi tsunami informasi. Filter itu bernama Pancasila, UUD 1945, jati diri, nilai-nilai religius spiritualitas, norma, adat-istiadat, budaya adiluhung.

Literasi media dalam kampanye politik memerlukan etika dan norma agar euforia politik tidak berkembang menjadi simulakra kehidupan.

Diperlukan komitmen dan integritas dari berbagai pihak untuk mewujudkan literasi media yang bermoral dan beretika. Tentunya, sinergi dan kolaborasi senantiasa diperlukan demi mewujudkan Indonesia jaya serta membentuk peradaban dunia yang semakin maju dan sejahtera.

Penulis : dr. Dito Anugoro (Penulis 20 Buku, Dokter Literasi, Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar)

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

‘Horor’ Kardus Kotak Suara

Terkini.id - KPU memutuskan untuk mengganti kotak suara Pemilu 2019 dengan memakai bahan kertas kardus. Selama ini KPU menggunakan kotak suara dari plat aluminium
Ragam

Inilah 3 Zodiak yang Doyan Berkata Bohong

Terkini.id - Hampir setiap orang pernah berkata bohong ataupun dibohongi. Namun apabila kebiasaan berbohong ini sulit dihentikan, atau sudah menjadi bagian dari ciri kepribadian seseorang, maka
Opini

Mewaspadai Pornografi

Terkini.id - Pornografi menjadi “hantu” yang meresahkan. Betapa tidak? Data yang dirilis Wijayanti AP (2009) menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah website yang berisi pornografi
Opini

Di Balik Melejitnya Kosmetik Wardah

Terkini.id - Begitu banyak yang serba kebetulan di balik melejitnya kosmetik Wardah. Tapi saya tidak setuju kalau itu disebut kebetulan. Seperti juga suksesnya Rusto’s