Pemkot Surabaya dan BMKG Gelar Sosialisasi Mitigasi Bencna

Pemkot Surabaya
Pemkot Surabaya dan BMKG Gelar Sosialisasi Mitigasi Bencna

Terkini.id, Surabaya – Berada di Negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik, menjadikan Indonesia menjadi negara rawan gempa. Mengantisipasi adanya bencana, Rabu 9 Januari 2019.

Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian kota Surabaya, serta Stasiun Meteorologi Kelas I Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya mengajak para nelayan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kebencanaan melalui sosialisasi mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Sentra Ikan Bulak.

Nanang Haryadi, Kasubid Pencegahan BPBL Linmas kota Surabaya berharap dengan adanya sosialisasi secara rutin ini dapat dimanfaatkan oleh nelayan dengan baik.

Menurutnya, nelayan memiliki resiko yang tinggi terhadap bencana. Jika para nelayan tidak tahu tentang mensiasati bencana akan menimbulkan korban.

Pada saat yang sama Mohammad Nurhuda, Kepala Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya memaparkan materi terkait Pengertian Gempa, Potensi Gempa dan Kesiapsiagaannya.

Nurhuda menjelaskan, gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak Bumi.

Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik.

Energi yang dihasilkan dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi, sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan Bumi.

Nurhuda menjelaskan tekait tsunami. Menurutnya, tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu yang berarti gelombang, sedangkan nami  berarti bandar atau pelabuhan.

“Tsunami merupakan gelombang laut yang sangat besar yang dihasilkan dari perubahan struktur (deformasi) pada dasar laut akibat gempa bumi, tanah longsor ataupun letusan gunung berapi,” jelas Nurhuda.

Lebih lanjut, Nurhuda menjelaskan, contoh usaha-usaha mitigasi, antara lain pemetaan daerah rawan gempa dan tsunami, memperhatikan kaidah konstruksi tahan gempa/tsunami dalam pembangunan di segala sektor, pemasangan pamflet dan poster mengenai gempa dan tsunami, pembangunan sistem peringatan dini gempa dan tsunami, pemasangan alarm tanda bahaya di sepanjang pantai dan ruang umum (dapat berupa sirine, speaker dll.), membuat jalan akses menuju dataran yang lebih tinggi / bukit terdekat.

Berita Terkait
Komentar
Terkini